Kota Pilu
Masa rawan putus cinta adalah ketika seseorang menempati kursi kelas tiga.Dengan embel–embel ingin fokus belajar tetapi nyatanya hanya ingin meninggalkan dengan cara yang lebih sopan.Kata sebagian orang, masa SMA menjadi memori cinta paling indah dalam hidup.Tetapi hal itu hanyalah omong kosong bagi Junaedi.Dia seperti tak percaya lagi akan kebenaran cinta sejati.Setiap hari selalu saja mengurung diri sambil menatapi chattingan massenger dari mantan kekasihnya yang tak kunjung ia hapus.Sesekali juga memandangi poster tokoh – tokoh dari serial film detective conan yang tertempel hampir di setiap sudut kamarnya.Dipesan terakhir chatnya bertuliskan‘kenapa kamu mutusin aku ?’.Sebuah pertanyaan singkat yang berharap diberikan penjelasan oleh Elis:mantan kekasih,kini hanya menjadi kalimat yang retoris.Masih belum ada alasan pasti semenjak chat itu tertimbun satu bulan yang lalu.Beberapa kali Junaedi juga mencoba mengunjungi rumah Elis.Tetapi Ibunya yang sejak awal bertemu memang terlihat tidak merestui hubungan Junaedi dengan anaknya itu.
“Loh kamu lagi Junaedi,”kata Ibunya Elis terkejut melihat Junaedi,yang kemarin baru saja datang ke rumahnya.
“Iya tante,Elisnya ada ?”kata Junaedi dengan percaya diri, karena sebelumnya ia tidak membawa martabak andalannya.Tapi kali ini pasti akan diizinkan bertemu dengan Elis jika memberikan martabak ini pada Ibunya.
“ooh..kebetulan Elisnya lagi nggak ada Jun,”kata Ibunya Elis yang tampak membohongi Junaedi.Junaedi yang sejak awal sudah menyadari bahwa motor bebek satu – satunya milik keluarga Elis masih di rumah dan melihat sepatu serta sendal Elis yang tergeletak di dalam rak.Ia sangat yakin bahwa memang Elis tidak ingin lagi menemuinya,ditambah dukungan dari Ibunya yang membuat tak ada celah untuk Junaedi memperbaiki hubungan asmaranya.
“Ya sudah kalau begitu tante, saya pamit pulang aja,” ia menarik kembali tangannya yang sedang memegang kantong kresek berisi satu porsi martabak dan lekas membalikkan badan.
“Loh kok martabaknya dibawa lagi ?”
“Iya tante nggak jadi, mau dibalikin, potongannya genap padahal tadi mesennya dipotong ganjil,”
Baru saja melangkah,Junaedi sudah mendengar suara Ibunya Elis menutup pintu dengan cukup keras.Tetapi tidak sekeras perjuangan Junaedi untuk mendapatkan pujaan hatinya kembali.Akhirnya iapun memutuskan untuk menghentikan perjuangannya sambil setengah hati menyetarter motor astrea pitung miliknya yang tak juga mau menyala.Kesalnya pun bertambah,sekalinya motor tersebut menyala ia langsung menarik gas sampai motor itu berbunyi sangat berisik di telinganya.
Langit pun seakan tak terima dengan keputusan Junaedi,gerimis sepanjang jalan mulai membasahi jalanan yang sudah lama tak tergenang air.Terlihat di kanan kiri Junaedi banyak pasangan yang mulai menepi,tak berani melawan derasnya hantaman air yang menghadang.Kenangan bersama Elis kini kembali muncul dalam kepala Junaedi yang mulai basah kuyup.Ia jadi teringat saat hujan – hujanan bareng Elis di atas motor pitungnya.Andaikan Elis ada saat ini, pasti ia sudah memeluknya dengat sangat erat.Bahkan hujan yang terasa dingin sekalipun akan hangat ketika Elis ada di sampingnya.
“bek,,bek,,bek,,” perlahan motor Junaedi berkurang kecepatan,hingga akhirnya berhenti pada sebuah pohon besar yang tidak akan kehujanan jika ia ada di bawahnya.
“Aduhh,,apalagi ini ya tuhan.. baru juga lagi sedih udah ditambah aja ini cobaan,” ucapnya pada diri sendiri.Junaedi segera turun dan segera memeriksa motornya tersebut.Ia membuka tangki bensin yang ternyata tidak ada bahan bakarnya sama sekali.
“Astaga,aku lupa tadi mau mampir beli bensin dulu,”gumamnya.
Di saat orang – orang berpegangan tangan dengan pasangan,kali ini Junaedi hanya bisa memegang stang motor kesayangannya.Ia menuntun perlahan langkah demi langkah mencari warung yang menjual bensin eceran.Jalanan cukup ramai waktu itu,kebetulan jalan yang ia lewati ini juga merupakan jalan dimana banyak pusat pembelanjaan dan bioskop yang sudah berdiri sejak 10 tahun yang lalu.
Hujan yang mulai mereda membuat pandangan Junaedi kembali normal.Begitupun dengan ingatannya yang kembali ke masa di saat ia kencan pertama dengan Elis.Ia mengajak Elis ke sebuah mal yang jaraknya tak jauh dari ia berjalan saat ini.Elis tampak sangat lugu untuk orang yang baru pertama kali berkunjung ke mal.Ia juga cukup ketakutan saat security memeriksa isi tasnya dengan sebuah alat.Salahnya,Junaedi malah menertawainya,’PLAKK...’Elispun memukul pundak Junaedi cukup keras hingga menimbulkan suara yang membuat perhatian orang – orang tertuju pada mereka berdua.Pernah satu momen saat mereka sedang asik mengobrol,mereka tak sadar bahwa eskalator yang sedang dinaiki ternyata adalah arah yang berlawanan.Sontak saling menatap, kemudian bersamaan membalikan badan menuju ke eskalator yang tepat, setelah itu berjalan kembali seolah-olah kejadian itu tak ada yang melihat.Mengingatnya pun membuat Junaedi tersenyum kecil di pinggir jalan.Ia berhenti sejenak mengisi perutnya di sebuah warung bakso tepat di depan gedung bioskop.Saat melahap butir ketiga dari baksonya, ia sedikit menengadah melihat papan poster film horor ‘Perempuan Tanah Jahanam’ yang sedang tayang saat itu.Film pertama yang ia tonton bersama Elis tersebut kini diputar kembali karena adanya pandemi.Pikirnya saat itu,Elis tidak akan berani menonton film horor dan kemudian memeluk Junaedi karena ketakutan.Tetapi justru ia sendirilah yang gemetaran sedangkan Elis hanya diam menikmati alur filmnya.Dasar Junaedi yang sok pemberani.
”Kenapa ini ?? kenapa tempat ini begitu banyak kenangan untuk ku dan Elis? Sial, harusnya aku tidak lewat jalan ini tadi,” gumamnya dalam hati.Lalu ia meneruskan makannya sampai habis tak tersisa.
“Berapa pak ?”tanya Junaedi pada bapak pedagang bakso tersebut.
“Loh sudah dibayar mas sama mbak – mbak yang tadi,”sahut bapak itu.
“Ha,Mbak – mbak yang mana ya pak? saya tadi datang sendiri ke sini,”kata Junaedi bingung karena ia sedari tadi tidak melihat satupun orang yang ia kenal di sekitarnya.
Baca Juga :
“Woy,ngapain mas !”kata wanita pemilik motor tersebut.
“Eh ini salah,anu itu motor,motorku mau mundur,ini mau dipindahin,”kata Junaedi ngeles padahal ia salah motor.Kebetulan motor pitungnya itu ada di depannya tepat di bawah rambu ‘dilarang parkir’
“Iya Jun santai aja kok,”sahutnya sambil meringis.
“Loh kok tau namaku?”tanya Junaedi
“Ah kamu Jun sama temen sendiri kok lupa,coba deh diliat - liat lagi,”katanya sambil mengekspresikan wajahnya yang lucu itu.
“Oh Cindy kan,iya tau aku Cindy temen SMP yang punya jempol kaki gede sebelah kan?”kata Junaedi.
“Hah bukan ih,jempol kaki aku gak gede sebelah,”jawabnya.
“Lah terus?oh iya jempol tangan ya,tangan kiri apa kanan gitu aku lupa,”sahut Junaedi yang juga melihat – lihat tangan dari wanita tersebut.
“Haduhh.. Juned Juned,”mendengar nama panggilan yang tidak asing ditelinganya,Junaedi pun langsung mengingat – ingat dengan teman SD yang suka memanggilnya seperti itu.
“Oh aku tau sekarang,kamu Sari kan ? Temen SD ku yang dulu satu – satunya cewe yang suka berak di celana waktu pelajaran ?”kata Junaedi pada wanita itu.
“Sudah lah Juned jangan bahas – bahas masa lalu deh,kamu itu kalo ngomongin masa lalu selalu yang diinget yang jelek – jeleknya mulu,”ucap Sari.
“Tunggu dulu,jangan – jangan kamu yang bayarin aku tadi di warung bakso bukan? “kata Junaedi yang masih bertanya – tanya.
“Iya betul,nih aku beliin sekalian kaos buat kamu biar ngga kedinginan,aku liat tadi kamu kehujanan di jalan sambil nuntun motor begitu,”kata Sari.
“Lah jadi ngrepotin nih,nanti...”belum selesai bicara,Sari langsung membuka tangan Junaedi dan memberikan kaos baru itu untuknya.
Hatinya berdebar - debar saat Sari memegang tangannya.Ia tidak biasa dipegang oleh wanita lain seperti ini kecuali Elis.Sikap Elis yang terlalu posesif hingga pada akhirnya membuat Junaedi tidak dapat membuka diri pada wanita lain.Bahkan saat naik angkot,Junaedi lebih memilih duduk dekat sopir daripada harus bersebelahan dengan para penumpang wanita di belakang.Hal ini ia lakukan karena sudah terbiasa diposesifkan agar hatinya tidak berpaling pada pujaan hatinya itu.Memang terlihat lebay,tapi justru Junaedi lebih suka dengan cewek yang posesif pada dirinya.
Setelah ganti baju,Junaedi berniat untuk melanjutkan kembali perjalanannya.Tetapi Sari yang tadi sempat pergi, tiba – tiba muncul dengan membawa sebotol bensin yang ia pegang di tangan.
“Kalo mau jalan motornya diisi bensin dulu,”ucapnya sembari berjalan menuju Junaedi.
Junaedi menatap Sari,ia tampak begitu tulus saat memberikan botol bensin pada dirinya.Junaedi kesengsem melihat rambut pendeknya yang melambai – lambai tersentuh angin.Ia juga sudah lupa bagaimana gambaran Sari waktu SD, tapi yang jelas Sari yang sudah tumbuh dewasa sekarang ini sangatlah cantik.Hatinya kembali berdetak kencang,senyumnya yang manis terkadang membuat dirinya ingin jatuh pingsan.
Tidak ada pilihan lain untuk Junaedi,daripada harus menuntun kembali motornya itu, lebih baik ia terima saja pemberian Sari.Junaedi membuka jok motor lalu mengisi tangki bensinnya dengan perlahan.
“Ri, kok kamu bisa ada di sini gimana ceritanya?”kata Junaedi penasaran.
“Jadi gini ned,aku baru pindah ke sini karena orang tuaku pindah tugas,kan ayahku udah PNS sekarang,terus kebetulan pas aku mau beli baju,dijalan liat kamu tadi lagi nuntun motor gitu, mana hujannya deres banget lagi,”
“Oh jadi kamu pindah ke sini,rumahmu sekarang di mana?”tanya Junaedi.
“Itu deket kok, belakang bioskop belok kiri,terus lurus sedikit ada gang masuk ke dalem pokoknya deket masjid,”kata Sari.
Tetes terakhir bensin tersebut akhirnya keluar.Diikuti pula oleh percakapan mereka yang juga akan berakhir.
“Jun besok mau nggak temenin aku belanja,soalnya Ibu mau kirim – kirim sesuatu buat tetangga,aku juga belum hafal banget sama daerah sini,”pinta Sari pada Junaedi.
“Besok?”
“Eh nggak bisa ya? ya udah gak apa-apa santai,nanti aku pake ojol aja deh,” kata Sari memotong perkataan Junaedi.
“Bisa kok bisa,besok acaranya cuma webinar aja dari sekolah,gampanglah masuk sebentar aja buat absen,selesai,”sahut Junaedi.
Sari hanya tersenyum sambil menganggukan kepala tanda ia setuju.Lagi – lagi senyum Sari membuat luluh hati Junaedi.Senyumnya yang lebar mirip seperti senyuman Elis yang setiap hari dilihatnya.
Akhirnya perjalanan yang melelahkan bagi Junaedi telah berakhir.Kembali ke dalam kamar dan menunggu hari esok akan datang.Sepanjang malam mereka berdua melanjutkan percakapan di telepon.Saling bercerita tentang kehidupannya masing – masing.Sari lebih banyak bercerita tentang mimpinya yang ingin melanjutkan kuliah S1 di Bandung.Sedangkan Junaedi yang tidak memiliki mimpi besar dalam hidupnya,hanya bercerita tentang adegan – adegan di film detektif conan dengan misi paling menarik menurutnya.Kisah cintanya yang baru kandas di tengah jalan dengan wanita bernama Elis juga sempat ia ceritakan pada Sari.Mereka menghabiskan kuota internet malam hingga Junaedi pun sampai ketiduran.Nomor whatsapp Sari yang dinamai ‘calon bebeb’pun kini telah di pin paling atas dalam hp Junaedi.
Pagi pun tiba,seperti biasa Junaedi melakukan kegiatan paginya dan memanaskan motor di depan rumah.Setelah melakukan webinar beberapa menit sekedar mencantumkan namanya dalam daftar absen,Junaedi langsung bergegas ke rumah Sari.Untungnya pagi ini cukup cerah.Tidak ada tanda – tanda akan hujan sehingga iapun sengaja tak membawa jas hujan.Di perjalanan dalam kota yang ramai itu, akhirnya Junaedi bisa menemukan satu wanita yang dapat menggantikan peran Elis dalam hidupnya.Saking senangnya,tukang tisu di perempatan lampu merah yang biasanya diabaikan kini ia berikan senyuman.Pengamen jalanan yang dulu dikasih seribu kini ia beri sepuluh ribu.Junaedi tidak mau dirinya sampai berlarut – larut lagi dalam kesedihannya.
“Jun” suara yang memanggilnya dari dalam rumah.Kemudian keluar seorang wanita dengan mengenakan Air Jordan berwarna merah.Walaupun kini rambutnya diikat, tapi sama sekali tidak mengurangi rasa cinta Junaedi kepada Sari.”Mau sarapan dulu gak?mamaku masak banyak nih,”ucap Sari yang selalu perhatian pada Junaedi.
“makasih ri tadi udah sarapan di rumah,”
“Ooh ya udah yuk,”sahut Sari.
Mereka berdua berangkat menuju pusat kota.Junaedi akan membawa Sari kemanapun tempat yang ia butuhkan untuk mencari semua keperluannya.Ia tahu betul dengan semua jalan di kota yang satu ini.Mulai dari jalan kotanya,jalan gang,sampai jalan tikus sekalipun.Karena itulah julukan ‘Raja Jalanan’ dari teman – temannya pantas ia dapatkan.Setelah lima jam berkeliling,akhirnya Sari telah mendapatkan semua barang yang ia butuhkan.Setelah itu Junaedi mengajak sari untuk makan siang terlebih dahulu di salah satu warung makan padang.
“Mas saya biasa ya makan sini,kamu mau makan apa ri?” “emm.. pake rendang aja deh,”
“Sama rendangnya satu mas,”kata Junaedi pada penjual nasi padang tersebut.
“Kamu sering makan di sini ya jun?”tanya Sari pada Junaedi.
“Iya ri,ini salah satu tempat langgananku sama Elis kalo lagi keluar,”
“ooh..” “Kenapa ri ?”tanya Junaedi yang melihat muka Sari tiba – tiba bete.
Tanggapan dingin dari Sari menjadi terabaikan oleh pelayan yang datang membawa dua piring makanan ke meja mereka berdua.
“Wih cewenya baru lagi nih mas,”kata pelayan yang mengantarkan makanan kemudian pergi.Junaedi memang sudah sangat akrab dengan pelayan di warung tersebut.Mereka – mereka ini lah juga, yang waktu itu ikut merayakan hari jadian Junaedi dengan Elis.Yah hanya selisih dua sampai tiga tahun umurnya dengan Junaedi,makanya bercandaan – bercandaan mereka ini selalu saja nyambung.Tetapi berbeda kondisinya saat itu,sudah cukup lama tidak bertemu karena PPKM sedang gencar – gencarnya sehingga mereka juga belum tahu bahwasannya Elis dan Junaedi sudah putus.
Sari yang mendengar hal tersebut,langsung berdiri dari tempat duduknya dan hendak pergi meninggalkan Junaedi.”Tadi mama WA, katanya suruh pulang cepet,nanti kamu makan aja,aku mau pulang pake ojol,”kata Sari yang sudah memasukkan handphonenya ke dalam tas.Junaedi yang sudah tahu bahwa Sari sedang marah,mencoba menenangkan dan membujuknya untuk berbaikan.Ia tidak ingin wanita yang ada di depan matanya tersebut pergi meninggalkannya kemudian menghilang tanpa kabar.Ia tidak ingin membuang kesempatannya yang kedua untuk mendapatkan hati Sari.
“Ntar dulu ri,”Junaedi memegang tangan Sari.”Kenapa ri?”dia memandang Sari berharap ia tak pergi.”Aku harus pulang jun mama udah nungguin,” “Tapi ini udah dateng makannannya,daritadi kan kamu belum makan,”
Karena terus dipaksa dan terlanjur merasa tidak enak pada Junaedi, Sari akhirnya mau mengikuti kemauannya.dia sedikit lebih sabar untuk menahan amarahnya.Padahal Sari sebenarnya sudah jatuh hati pada Junaedi sejak pertemuannya kemarin.Pembahasan masa lalu Junaedi membuat ketidaksukaan Sari pun akhirnya muncul.Terlebih lagi ceritanya yang terus tentang Elis sang mantan pacarnya itu membuat dirinya tak tahan untuk berlama – lama berada di dekatnya.Ia jadi merasa dirinya tidak dianggap oleh Junaedi yang terus asik membicarakan Elis.
“Nah gitu,duduk dulu,”kata Junaedi.
“Iya iya,tapi habis makan langsung pulang ya,”sahut Sari mencoba tenang.
Di tengah – tengah waktu makan,Junaedi tak sengaja mengarahkan pandangannya ke arah kasir,ia terkejut saat melihat wanita bermasker hitam datang dan memesan dua bungkus nasi padang.Wanita tersebut terlihat tak asing bagi Junaedi.Tentu saja, sebab wanita itu tidak lain adalah Elis.Junaedi kebingungan,ia menjadi salah tingkah setiap melihat ke arah kasir.Sari yang membelakangi tempat kasir sempat bingung melihat tingkah Junaedi yang aneh seketika.Berulang kali Junaedi tampak mengelap mukanya dengan tisu.Ia juga kerap menundukan kepalanya saat sedang mengunyah.Sebenarnya dalam hatinya yang paling dalam ia ingin sekali berbicara dengan Elis mengenai pernyataan yang dia berikan kepada Junaedi.Tetapi di hadapannya ada Sari yang sedari tadi masih saja cemberut.”aduuh ada Elis lagi,samperin gak ya.. hmm gak lah udah lupakan Junaediii...masa itu udah berlalu, tapi nanti kalo ngga disamperin kamu nggak akan bisa ketemu Elis lagi...come on kamu bisa Junaedii.. wait wait ,tapi aku masih belum tau alasan dia kenapa mutusin aku,aku masih belum ikhlas melepasnya,”gumam Junaedi dalam hati.
Saat melihat kembalian telah di tangan Elis.Junaedi segera berdiri kemudian langsung mengejarnya sampai ke depan.
“Lis lis,tunggu sebentar,”kata Junaedi.
“Junaedi ? apa lagi sih..”sahut Elis.
“Bentar doang aku mau ngomong sama kamu,”
“Kamu ngapain ke sini ?”sambungnya.
“Beli nasi lah apalagi,udahlah Ned aku lagi nggak banyak waktu buat ngomongin sesuatu yang gak penting kaya gini,”ucapnya.
“Nggak, maksudku kamu kemana aja semenjak ngeblok WA ku? kenapa si kamu selalu menghindar gitu,emangnya aku salah apa lis ?”tanya Junaedi.
“Aku lagi nenangin diri aja,”
“Iya,tapi kenapa? Aku butuh penjelasan juga dari kamu,aku juga manusia yang punya perasaan yang perlu dihargai lis,bukan hanya kamu doang yang ingin dihargai,”sahut Junaedi yang tidak biasanya ia bersikap serius seperti itu.
“huftt,,sebenarnya kamu nggak salah kok ned, tapi aku yang salah udah buka hati terlalu lama ke kamu,aku nggak bisa jaga perasaan itu ned,perasaan yang dulu sudah aku jaga sebaik yang aku bisa.Tapi entah mulai kapan dan dengan alasan apa perasaan itu bisa hilang begitu saja,”
“Tt..tapi,”
“Pliss,jangan anggap aku pacar kamu lagi,mulai sekarang lupain semua kenangan – kenangan kamu dengan Elis yang sudah melukai hatimu itu ned,anggaplah kota ini sebagai saksi bisu dalam kenangan kita dulu.Kalau kamu terus – terusan melihat masa lalumu,nanti gimana kamu bisa maju,”sambung Elis dengan kata – kata yang sangat menyentuh hati Junaedi.
“Ya udah.. tapi walaupun sekarang kita nggak pacaran tapi untuk seterusnya kamu masih mau kan jadi temenku ?”tanya Junaedi.
“Iya pastilah ned,” “Janji?” “Janji”
“ohya satu lagi,kamu juga inget lis,jangan sambong dan berpaling lagi kalau ketemu aku,aku nggak mau jika suatu hari bertemu dengan orang yang sudah sangat aku kenal dan pernah akrab,tiba – tiba berubah seperti orang yang sangat asing.Itu menyakitkan buatku,”kata Junaedi
“iya deh maaf,ya udah aku pulang dulu ned,makasih ya buat semuanya,”kata Elis yang hendak menaiki motornya.
“Iya sama – sama,makasih juga lis,”sahut Junaedi dengan matanya yang sudah berlinang.Mencoba tetap tegar menahan air matanya yang hendak jatuh.Ia tidak ingin terlihat sedih saat di hadapan Elis yang terlihat jauh lebih kuat dibanding dirinya.
Sebelum Elis menarik gas motornya,ia sempat mengatakan sesuatu pada Junaedi.
“Ned,hasil seleksi kemarin akhirnya aku bisa lolos ke UGM,mungkin hari ini juga aku akan pindah ke Jogja,soalnya Ayah udah dapat tempat kos untuk ku di sana,”
“Wah alhamdulillah,ini pasti berkat doaku waktu itu,hahaha.. aku tunggu balas budimu Eliss,”teriak Junaedi.
Elis hanya tersenyum kemudian pergi meninggalkan Junaedi yang masih melambaikan tangan tanda perpisahan terakhir mereka berdua.
Lalu kepergian Elispun disusul oleh Sari yang sebelumnya sudah memesan ojol ketika Junaedi mengejar mantannya.Sari sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun pada Junaedi.Ia sangat marah melihat Junaedi yang bertemu kembali dengan mantan kekasihnya itu.Rasa cemburu disertai amarah yang sempat terbelenggu tak dapat lagi ditahan olehnya.
“Ri,Sari,,”Panggil Junaedi pada Sari.Tetapi kali ini Junaedi memutuskan untuk membiarkan Sari pergi.Karena dirinya kini sudah kembali.Ia akhirnya bisa melepaskan Elis dengan sepenuh hatinya.Semua pertanyaan yang selama ini mengelilingi isi kepala Junaedi kini akhirnya bisa terjawab tuntas pada saat itu juga.Mulai detik itu,Junaedi tumbuh lebih dewasa.Ia akan lebih banyak belajar dari semua kenyataan pahit yang ia hadapi kemarin.Berkat Elis ia jadi manusia yang kuat,berkat Elis prestasinya selama ini juga meningkat,berkat Elis juga dirinya bisa kembali bangkit dan lebih bersemangat,karena berkat Elis pula ia menjadi tahu semua jalur – jalur di kota yang padat ini.Akhirnya ada masa lalu seseorang yang ia ingat melalui sisi positifnya walaupun itu mantan kekasihnya sekalipun.
Tak lama hujan pun turun.Membasahi tubuh Junaedi yang masih berdiri di pinggir jalan.Membasahi jalanan dan gedung pencakar langit di seluruh sudut kota yang pilu ini.Junaedi menghapuskan semua kenanganya dalam hujan yang turun dan membiarkannya terbawa arus air entah kemana.’Semoga hujan yang akan datang ,tidak lagi mengingatkanku pada dia yang telah pergi’.
0 comments:
Posting Komentar